Malu rasanya jika kita mengaku sebagai negara agraris tetapi kebanyakan hasil pertanian/ pangan yang dijual dipasaran justru hasil import. "Negeri ini butuh ahli-ahli teknis yang lebih banyak lagi, juga dalam bidang pertanian. Kita malu, negara agraris tapi banyak impor," kata Dahlan, seperti disampaikan Kepala Humas dan Protokoler Kementerian BUMN Faisal Halimi, melalui Blackberry Messenger (BBM) kepada Okezone, Sabtu (1/9/2012).
Ironisnya, sebagai negara agraris Indonesia ternyata belum memiliki kemandirian dan kedaulatan dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan bagi rakyatnya. Hal ini ditunjukkan oleh nilai impor komoditi pangan Indonesia yang masih cukup tinggi, yakni sekitar 7 persen dari total impor Indonesia. Bahkan, beberapa waktu yang lalu, kita juga sempat dikagetkan dengan kenyataan bahwa ternyata sebagai salah satu negera dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia harus mengimpor garam dari sejumlah negara seperti Cina dan India. Sebuah kenyataan yang tentu miris dan membuat kita mengelus dada.
Bukankan negara yang kuat adalah negara yang mempunyai kedaulat pangan?
"Kita pernah SWASEMBADA PANGAN khususnya beras"
Yang sangat mecengankan sebagai negara agraris ternyata 1.6 juta anak Indonesia mengalami stumping atau malnutrisi sejak di kandungan.
Penyebab utamanya, minimnya pengetahuan nutrisi ibu mengandung akan nutrisi.
Selain itu juga karena masalah ekonomi masyarakat yang masih masuk dalam
kategori miskin. Maka perlu pengetahuan soal nutrisi bagi para ibu
hamil dan mempunyai anak bawah lima tahun.
Andai saja pemerintah Indonesia memiliki kemandirian dan kedaulatan dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan bagi rakyatnya malnutrisi dapat ditekan bahkan bisa hilang di Negeri Indonesia tercinta ini.
Sumber: okezone dan Kompasnia
Gambar: global muslim community
Tidak ada komentar:
Posting Komentar