Saat
berbelanja, label yang tertera di kemasan menjadi perhatian penting
bagi konsumen untuk menentukan pilihan. Tetapi, jangan terjebak label
yang kerap membingungkan.Sebuah penelitian di Universitas
Carolina Selatan menemukan, makanan yang ditempeli kata ‘sehat’ dan
‘organik’ seringkali menipu. Orang yang sedang menjalani diet dan
memperhatikan berat badan lebih cenderung disesatkan label.
Ada
beberapa cara untuk mengetahui apa yang ada dalam sebuah produk lewat
kemasannya. Anda harus pintar-pintar membedakan makanan yang sehat dan
tidak dari label kemasan.
Berikut tujuh istilah yang sering muncul pada kemasan dan menu, seperti dikutip dari majalah Fitness.
Bebas Gluten
Produk bebas gluten dirancang bagi mereka dengan penyakit celiac, atau
ketidakmampuan mencerna gluten (protein dalam gandum, barley, dan rye).
Makanan ini populer setelah beberapa seleb seperti Gwyneth Paltrow
mengonsumsinya.
Konsumsi produk bebas gluten umumnya sebagai upaya
meringankan penyakit sindrom iritasi usus besar, gangguan konsentrasi
serta menurunkan berat badan. Faktanya, Anda tak memerlukan produk mahal
ini kecuali menderita celiac atau sensitivitas gluten, yang menyebabkan
diare dan migrain setelah konsumsi gluten.
“Bebas gluten tidak
secara otomatis sama dengan sehat,” kata pakar nutrisi Shelley Case.
Diet bebas gluten tidak dapat menurunkan berat badan karena rendah
serat, kebanyakan tidak diperkaya dengan vitamin B dan zat besi sehingga
mungkin kehilangan nutrisi penting.
Bebas Lemak Trans
Lemak trans umumnya terjadi saat minyak dipanaskan dengan hidrogen
untuk meningkatkan umur simpan dan memperbaiki struktur makanan. Namun,
lemak trans meningkatkan kolesterol jahat “LDL” dan menurunkan
kolesterol baik ‘HDL’.
Meski sejumlah restoran dan produk berlabel
bebas lemak trans, Anda tak bisa menghindarinya. Bila makan kerupuk,
beberapa porsi kue, gorengan dalam satu hari, meski diklaim bebas lemak
trans Anda telah mengonsumsi sekitar 2,5 gram lemak trans. Hindari junk
food, makanan ringan seperti kue, donat, dan makanan kaleng untuk
memangkas asupan lemak trans.
Pemanis Rendah Fruktosa
Beberapa tahun lalu, periset menemukan, kadar fruktosa tinggi dalam
pemanis buatan berkaitan erat dengan obesitas dan diabetes. Untuk
mengurangi kandungan fruktosa, banyak perusahaan makanan yang mengganti
pemanis HFCS termasuk dengan madu, sukrosa, kecap dan jus.
Faktanya,
label rendah fruktosa seringkali hanya gimmick. Menurut penelitian
terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical
Nutrition, tidak ada bukti bahwa kadar fruktosa tinggi lebih erat
terkait dengan obesitas daripada pemanis lainnya.
Untuk itu,
perhatikan label makanan yang akan Anda beli. Jangan membeli produk
dengan pemanis yang masuk empat bahan utama termasuk madu, sirup,
sukrosa, fruktosa, dan jus buah. Ingat juga bahwa empat gram gula setara
dengan satu sendok teh.
Makanan Lokal
Produk
ini umumnya disebut sebagai hasil pertanian lokal yang diklaim lebih
sehat dan lebih lezat daripada makanan dari luar kota. Kate Geagan, RD,
penulis Go Green mengatakan, makanan yang diproduksi dalam jarak dekat
dapat memengaruhi nutrisi seperti vitamin C dan asam folat yang sangat
rentan berkurang.
Tapi ini hanya berlaku pada rasa dan nutrisi
buah lokal seperti apel dan pir. Namun, tak berarti mentega, daging dan
unggas lokal lebih sehat. Dia juga menjelaskan produk lokal bukan
berarti organik. Jadi, bila menghindari pestisida, antibiotik, dan
tambahan hormon, tanyakan bagaimana produk itu ditanam atau diternakkan.
Gandum Utuh
Sebagian besar orang berbelanja gandum utuh dan bahan-bahan yang
terbuat dari gandum utuh seperti kue kering karena menganggapnya sehat.
Sebenarnya,
mengonsumsi biji-bijian lebih sehat daripada produk yang diklaim
mengandung gandum utuh. Saat membaca label, sebaiknya beli produk
berlabel ’100 persen gandum utuh’ bukan hanya label ‘dari gandum utuh’.
Untuk menyakinkan, perhatikan label fakta nutrisi dengan kandungan serat
setidaknya 3-4 gram.
Rendah Lemak
Banyak
produk yang menggunakan label ini termasuk permen. Sehingga, sepertiga
dari orang cenderung makan lebih banyak bila produk rendah lemak.
Banyak
makanan yang ‘rendah lemak’ memiliki kalori sama seperti makanan penuh
lemak. Produsen dapat menyimpan gula tambahan pada produk es krim atau
kue rendah lemak untuk meningkatkan rasa. Dan, inilah yang menjadi
kesalahan orang berdiet.
Alih-alih takut mengonsumsi semua lemak,
lebih baik pilih produk yang memiliki lemak tak jenuh tunggal dalam
almond, alpukat, zaitun, minyak canola, dan biji wijen. Atau, lemak
omega-3 dalam kenari, biji rami, ikan berlemak, seperti salmon dan
daging tanpa lemak, serta olahan susu seperti keju dan yogurt tawar.
Organik
Studi Universitas Cornell menemukan, saat orang diminta membandingkan
rasa kue kering ‘organik’ dan ‘biasa’. Mereka menemukan, kue organik
lebih enak, rendah lemak dan rendah kalori meskipun harganya jauh lebih
mahal.
Dalam beberapa kasus, makanan organik jauh lebih sehat.
Susu organik mengandung lemak omega 3 lebih tinggi, asam linoleat
terkonjugasi, vitamin E dan lemak yang baik untuk melawan penyakit
jantung.
Namun, Anda bisa menghindari makanan berlabel organik
bila membeli produk biji-bijian, seperti keripik, mie, kue, dan biskuit
beras, karena produk ini cenderung tidak memiliki residu pestisida yang
banyak.
Untuk menghemat pengeluaran, sebaiknya beli makanan
organik hanya ketika ingin mengasup buah-buahan dan sayuran tertentu
yang mengandung tingkat residu pestisida tinggi, seperti:
Apel
Seledri
Stroberi
Persik
Bayam
Nektarin impor
Buah anggur impor
Paprika manis
Kentang
Bluberi
Selada
Kale
sumber: VIVAnews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar