Jakarta - Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah
untuk dijalankan. Terkadang, permasalahan di kantor, konflik dengan
suami, atau permasalahan keluarga malah membuat Anda kesal ketika
berhadapan dengan sikap anak yang kurang menyenangkan.
Apalagi
jika si kecil meminta macam-macam kepada Anda, sehingga tidak menutup
kemungkinan Anda mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh
diucapkan ke buah hati tercinta. Tentu saja, hal tersebut akan
meninggalkan luka tersendiri bagi anak Anda.
Berikut bagian
pertama dari sembilan hal yang sebaiknya jangan diucapkan orangtua
kepada buah hatinya seperti dilansir Parenting :
1. "Pergi! Mama ingin sendiri dulu"
Ketika
Anda mengatakan kalimat ini kepada si kecil, Suzette Haden Elgin,
Ph.D., pendiri Ozark Center for Language Studies mengatakan bahwa anak
akan menginternalisasi kalimat tersebut dan berpikir tidak ada gunanya
untuk berusaha berbicara kepada Anda karena mereka selalu diusir. Selain
itu, jika Anda terbiasa mengatakan hal ini kepada anak, ketika dewasa
ia akan terbiasa pula mengatakan hal yang sama kepada orang lain.
Ketimbang
mengucapkan kalimat di atas, ketika Anda memang sibuk coba katakan pada
anak, "ada yang ibu harus kerjakan dan selesaikan, jadi ibu ingin kamu
menggambar dulu sendiri ya beberapa menit. Kalau ibu sudah selesai, ibu
akan menyusul". Anda juga harus realistis, anak-anak yang berusia balita
dan pre school tidak bisa membuat diri mereka sendiri tenang selama
beberapa jam.
2. "Kamu itu..."
Memberikan
label adalah jalan pintas untuk mengubah anak-anak. Jika Anda mengatakan
"kamu itu memang pemalas," maka ia akan ikut melabeli dirinya secara
tidak langsung dan menganggap dirinya memang pemalas dan tidak ada yang
dapat diubah. Jika kita memberikan label yang buruk kepada anak seperti
bodoh, nakal, dan sebagainya, maka hal tersebut akan terus melekat dan
bisa saja menjadi identitas dirinya yang ia internalisasi hingga dewasa.
Sebaliknya, jika Anda mengatakan "kamu anak yang pintar," ia
akan mengira Anda memiliki ekspektasi yang besar untuknya dan hal
tersebut tentu saja dapat menjadi suatu beban tersendiri baginya. Jika
Anda ingin untuk mengubah tingkah laku si kecil, lebih baik katakan
secara jelas dan spesifik apa yang sebaiknya ia lakukan dan apa yang
sebaiknya tidak ia lakukan tanpa memberi label untuknya.
3. "Jangan menangis"
"Jangan
sedih!," atau "jangan seperti anak kecil" merupakan variasi lain dari
kalimat di atas. Jika Anda perhatikan, anak-anak belum bisa menyalurkan
emosinya melalui kata-kata. Mereka tertawa ketika mereka senang, dan
sudah pasti mereka menangis jika mereka sedih. Hal tersebut merupakan
hal yang lumrah.
"Sebenarnya, wajar bila orang tua tidak ingin
anaknya merasa sedih atau menangis. Tetapi, dengan mengatakan "jangan"
dan "tidak" kepada anak tidak akan membuat anak tersebut merasa lebih
baik. Bahkan, hal tersebut akan menimbulkan kesan bahwa emosi mereka
tidak benar dan tidak baik untuk merasa sedih atau takut," kata Debbie
Glasser, Ph.D., direktur dari Family Support Services di Nova
Southeastern University, Florida, Amerika Serikat.
Daripada Anda
memintanya jangan menangis, cobalah pahami emosi atau kesedihannya.
"Ibu tahu kamu takut sekolah tidak ditemani ibu. Tapi di sana ada ibu
guru yang bisa jadi pengganti ibu sebentar dan ada teman-teman kamu.
Kalau kamu masih takut, ibu selalu ada di luar dan kamu bisa bertemu aku
kapanpun kamu mau. Ibu janji nggak akan ninggalin kamu sendirian".
Dengan
memahami kesedihannya, Anda bisa memberinya contoh bagaimana
mengekspreksikan perasaannya. Anda juga menunjukkan padanya bagaimana
bersikap empati. Di kemudian hari, anak pun jadi tidak lagi terlalu
sering menangis dan bisa mengekspreksikan kesedihannya.
4. "Kenapa kamu tidak seperti dia?"
Wajar
bagi orang tua untuk membanding-bandingkan si kakak dengan si adik,
atau membandingkan anak dengan temannya yang lain. Tapi,
membanding-bandingkan anak Anda bukanlah cara yang efektif untuk
mengubah perilakunya. Anak memiliki fase tersendiri untuk belajar,
memiliki temperamennya masing-masing, juga kepribadiannya yang pasti
berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Membandingkan anak Anda
akan menyiratkan bahwa Anda ingin ia tidak menjadi dirinya sendiri dan
hal tersebut justru malah akan menyakiti hatinya. Selain itu,
membanding-bandingkan anak juga dapat merusak kepercayaan dirinya. Lebih
baik, berikan apresiasi dan pujian atas tingkah lakunya yang Anda sukai
agar dapat mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kembali.
5. "Lho, hanya begini hasilnya?"
Sama seperti
membanding-bandingkan, anak Anda juga pasti akan tersakiti hatinya jika
Anda mengatakan kalimat tersebut kepadanya. Belajar adalah suatu proses
untuk mencoba dan melakukan kesalahan hingga anak Anda akhirnya berhasil
untuk menguasai suatu hal. Kalimat ini tidak akan menyemangatinya untuk
terus menguasai hal tersebut, malah hanya akan menyakitinya dan
membuatnya malas untuk kembali belajar.
Jika anak Anda terus
melakukan kesalahan, memberikan semangat dengan berkata "sepertinya akan
lebih baik jika kamu menyelesaikannya dengan cara seperti ini," akan
lebih memotivasinya dibandingkan dengan terus mengejeknya.
6. "Berhenti, atau..."
Kalimat
di atas merupakan salah satu bentuk ancaman. Jika Anda sering
mengatakan ini kepada anak, cepat atau lambat ancaman ini tidak akan
berpengaruh lagi terhadap anak dan bahkan anak akan menganggap ancaman
sebagai suatu hal yang biasa. "Hasil riset menunjukkan bahwa, 80% anak
dua tahun akan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukannya hari
ini, keesokan harinya, tak peduli disiplin seperti apa yang Anda
terapkan," kata Murray Straus, Ph.D., seorang sosiolog di University of
New Hampshire.
Jadi sebaiknya Anda tidak lagi memberinya
ancaman. Akan lebih efektif untuk menerapkan taktik misalnya memberikan
anak arahan yang sama, menjauhkan anak dari situasi serupa atau
memberinya time-out.
7. "Tunggu sampai Mama pulang ke rumah!"
Ini
adalah salah satu bentuk lain dari ancaman. Akan tetapi, ancaman
seperti ini akan lebih tidak efektif karena jika anak melakukan suatu
kesalahan, sebaiknya Anda menanganinya secara langsung dan secepat
mungkin sehingga tidak ada penundaan. Selain itu, bisa jadi setelah Anda
pulang, anak Anda telah melupakan kesalahannya. Hal lain yang membuat
ancaman tersebut kurang efektif adalah anak Anda yang akan lebih
berfokus kepada cara untuk mencegah hukuman daripada fokus terhadap
tingkah lakunya yang salah apabila Anda melakukan penundaan dalam
menangani tingkah lakunya.
8. "Ayo, cepat!"
Anda
pasti akan merasa stres saat terlambat bangun pagi, jalanan macet,
kurang tidur, atau memiliki banyak pekerjaan di kantor yang harus Anda
selesaikan segera. Anda pun kemudian meminta si kecil untuk buru-buru
agar Anda tidak terlambat. Jika Anda kerapkali mengeluh, mendesah, atau
bahkan merengek agar anak buru-buru sebaiknya Anda perlu berhati-hati.
Hal tersebut cenderung menimbulkan perasaan bersalah pada anak, akan
tetapi tidak membuat mereka termotivasi untuk bergerak lebih cepat.
9. "Hebat! atau "anak baik!"
Memang,
tidak ada salahnya untuk memuji anak Anda. Tapi kesalahan dari suatu
pujian adalah ketika pujian berlebihan diberikan untuk tingkah laku anak
yang biasa saja. Misalnya, kalimat seperti "wah, kamu sangat hebat!,"
dilontarkan kepada anak yang telah terbiasa menghabiskan susunya setiap
hari, akan menjadi kurang berarti.
Anak-anak dapat membedakan
mana pujian yang dilontarkan untuk sesuatu yang sederhana, dan pujian
untuk suatu tingkah lakunya yang memerlukan usaha lebih. Lebih baik,
berikan pujian untuk usaha keras yang telah anak Anda lakukan seperti
menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit, atau pada hal yang jarang anak
Anda lakukan tetapi sekarang ia berhasil melakukannya. Pujian yang
spesifik membuat anak lebih termotivasi untuk melakukan tingkah laku
tersebut.