Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan

Alasan Pentingnya Makan Bersama


Tradisi makan bersama anggota keluarga saat ini sudah makin jarang dilakukan karena terbatasnya waktu berkumpul. Padahal, banyak hal positif yang bisa Anda dapat dengan meluangkan waktu makan bersama keluarga. Berikut ini adalah 8 alasan mengapa kegiatan ini perlu diupayakan setiap hari:

1. Anak-anak bisa belajar mencintai sayurSebuah survei tahun 2000 menunjukkan bahwa anak usia 9-14 tahun yang terbiasa makan malam dengan keluarga lebih sering mengonsumsi buah dan sayuran ketimbang minum soda dan makan-makanan yang digoreng. "Makan malam keluarga juga memungkinkan orangtua dan anak menjalin komunikasi terkait gizi dan pemilihan makanan sehat," kata Matthew W Gillman, MD, pemimpin peneliti survei dan Direktur Program Pencegahan Obesitas dari Harvard Medical School.

2. Memperkenalkan makanan baru. Makan malam keluarga adalah kesempatan yang tepat bagi orangtua untuk memperkenalkan kepada anak mereka berbagai macam makanan dan memperluas selera makan anak.
Dalam sebuah studi 2003 di European Journal of Clinical Nutrition, anak-anak ditawarkan beberapa potongan paprika merah manis dan peneliti menilai seberapa banyak mereka menyukainya. Hal itu dilakukan selama delapan hari. Setelah itu, mereka kembali diundang untuk memakan sebanyak-banyaknya paprika yang mereka inginkan. Hasilnya, pada akhir percobaan, tingkat konsumsi paprika jauh lebih tinggi dan lebih banyak.
"Anda dapat mengajarkan anak-anak untuk menikmati makanan baru, bahkan jika mereka tidak suka pada awalnya," kata peneliti.

3. Mengontrol porsi makan. Penelitian menunjukkan, warga Amerika menghabiskan lebih dari 40 persen anggaran makan mereka untuk melahap makanan di luar rumah. Padahal, makanan di luar rumah mempunyai tingkat kalori dan porsi yang jauh lebih besar. Hidangan restoran rata-rata memiliki kalori 60 persen lebih banyak ketimbang makanan buatan sendiri. Studi menunjukkan, ketika individu diberikan lebih banyak makanan, ia akan makan lebih banyak sehingga memungkinkan mengarah pada bertambahnya ukuran lingkar  pinggang.

4. Makanan sehat berarti anak sehat. Riset menunjukkan, anak-anak yang makan bersama keluarga cenderung terhindar dari berbagai masalah, seperti depresi, bunuh diri, dan gangguan makan. Mereka juga lebih mungkin untuk tidak melakukan hubungan seks bebas. Ketika seorang anak merasa sedih atau tertekan, makan malam bersama keluarga dapat menjadi solusinya. "Hal ini terutama berlaku untuk anak dengan gangguan makan," kata Dianne Neumark-Sztainer, PhD, seorang profesor di University of Minnesota of Public Health.

5. Makan malam bersama membantu anak-anak "mengatakan tidak". Makan malam keluarga setidaknya lima kali seminggu secara drastis menurunkan keinginan anak untuk merokok, minum alkohol, dan obat-obatan. Remaja yang kurang dari tiga kali mendapatkan makan malam bersama keluarga selama seminggu 3,5 kali lebih mungkin untuk menyalahgunakan obat-obatan, 3 kali lebih mungkin menggunakan ganja, lebih dari 2,5 kali menjadi perokok, dan 1,5 kali lebih mungkin menjadi pencandu alkohol. Demikian menurut laporan CASA.

6. Makanan sehat, hasil ujian baik. Para remaja yang makan bersama keluarga kurang dari 3 kali dalam seminggu, menurut laporan CASA, 20 persen lebih mungkin mendapatkan nilai C. Makan malam keluarga akan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk melakukan percakapan dengan orang yang lebih dewasa. Makan malam keluarga secara tidak langsung juga dapat menambah perbendaharaan kosakata anak. 

7. Menjadi pereda stres. 
Percaya atau tidak, jika Anda mempunyai pekerjaan yang berat, maka mencari waktu untuk makan malam bersama keluarga bisa membuat stres Anda berkurang. Pada tahun 2008, para peneliti di Brigham Young University melakukan studi terhadap pekerja dan menemukan bukti bahwa makan bersama keluarga dapat membantu mengurangi ketegangan akibat stres pekerjaan di kantor.

8. Lebih irit. Makan malam bersama keluarga selain meningkatkan komunikasi antara orangtua dan anak, tanpa disadari juga mengarahkan Anda untuk berhemat. Bayangkan berapa banyak uang yang harus Anda habiskan jika jajan di luar setiap harinya.

SUMBER: KOMPAS.com

Bersosialisasi Sejak Kecil Membuat Anak Makin PD




Melatih anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya sedari dini akan membantu mereka saat sekolah nanti. Anak akan lebih siap untuk mulai sekolah. Yang paling penting, anak-anak itu nantinya akan tumbuh menjadi anak yang lebih bahagia dan percaya diri.

Kesiapan sekolah bukan dinilai dari kemampuan anak semata, baik dalam membaca, menulis, maupun berhitung. Kemampuan bersosialisasi juga menjadi bagian penting dalam kesiapan anak bersekolah.

Alangkah baiknya jika anak sudah mulai diajak bermain dengan teman sebayanya. Dalam situs National Health Service bahkan dijelaskan bahwa tidak ada kata terlalu dini bagi anak untuk mulai berteman. Apalagi bila mereka adalah anak tunggal.

Saat bayi baru belajar merangkak sekalipun, orangtua bisa mulai bergabung dengan orangtua lain yang memiliki bayi seusia. Anda bisa berkenalan dengan orangtua lain saat berada di dokter anak. Anda juga bisa mencari teman kerja atau kuliah yang sudah mempunyai anak dengan usia tak jauh berbeda.

Membuat pertemuan atau kunjungan rutin dengan para orangtua ini memiliki banyak manfaat. Selain bayi atau anak dapat bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya, Anda sebagai orangtua dapat bertukar informasi seputar pengasuhan bayi.

Ada kalanya orangtua memasukkan anaknya yang belum berusia satu tahun di taman bermain. Ini semata agar anaknya dapat bersosialisasi dengan anak-anak seusianya meskipun, misalnya, belum bisa bicara.

Meski belum dapat berbicara, anak-anak tetap bisa berteman. Anak-anak tetap makhluk sosial dan menikmati saat mereka berada di dekat anak-anak lain.

Belum bisa berbagi
Hanya, kepada anak yang berusia 1,5 atau 2 tahun, jangan berharap mereka bisa langsung bermain dan dekat dengan anak lain. Hingga usia 2 tahun, anak belum benar-benar bermain dengan anak sebayanya.

Penyebabnya tak lain, mereka belum siap untuk melakukan pertemanan yang umumnya melibatkan kerja sama, mendengar, merespons, bergantian, dan berbagi. Yang baru bisa mereka nikmati adalah bermain dengan teman-teman yang ada di sekelilingnya.

Anak akan saling memerhatikan dan meniru apa yang dilakukan dan dikatakan. Di sini, anak akan mengasah kemampuan sosialnya satu sama lain.

Bisa saja anak belajar mengatakan "tolong" saat melihat temannya melakukan hal serupa dan mendapat respons yang menyenangkan. Selain itu, dari teman-teman yang ada di sekitarnya ini, anak juga dapat membangun kreativitas.

Memang, bermain pada usia 2 tahun bisa menimbulkan masalah lain. Boneka atau mobil-mobilan yang sedang dipegang seorang anak bisa membuat anak lain juga ingin mencoba memainkannya. Masalahnya, biasanya anak belum mau berbagi mainan dengan anak lain.

Jangan khawatir, konflik tersebut nantinya akan membuat anak belajar berbagi dan bekerja sama. Ketika anak menjelang usia tiga tahun, barulah mereka bisa bermain dan berbagi dengan satu atau dua teman spesialnya selama beberapa waktu tanpa pertengkaran.

sumber; KOMPAS.com

6 Kegiatan Usai Bercinta yang Memperpanjang Keintiman



img

Kegiatan apa yang biasanya Anda dan suami lakukan setelah bercinta? Mungkin langsung terlelap tidur, menyalakan TV atau bergegas ke luar kamar. Anda perlu tahu, aktivitas setelah bercinta tak kalah pentingnya dengan bercinta itu sendiri. Terlebih lagi, kegiatan pasca-bercinta bisa membuat Anda dan pasangan lebih dekat di kemudian hari.

"Saat orgasme, hormon dilepaskan untuk membuat Anda dan pasangan lebih merasa terhubung. Manfaatkan kesempatan itu dengan melakukan aktivitas yang akan memperpanjang perasaan tersebut," ujar seksolog Rachel Ross, MD, PhD.

Membangun kedekatan setelah bercinta, bukan berarti Anda harus mengobrol atau saling bertatap mata sepanjang malam. Coba enam kegiatan ini, seperti yang dilansir Cosmopolitan.

1. Makan Keju
Jika Anda dan pasangan merasa lapar setelah bercinta, jangan langsung melahap makanan berat. Konsumsilah pizza tipis renyah dengan topping keju atau potongan keju cheddar. Kandungan susu pada keju bisa membantu mengurangi rasa lapar, selain itu keju juga mengandung antioksidan yang melancarkan peredaran darah sehingga Anda berdua bisa lebih rileks. Nikmati keju dengan saling menyuapi di tempat tidur.

2. Saling Menggosokkan Tubuh Saat Mandi
Mandi adalah salah satu aktivitas menyenangkan setelah bercinta, tapi jika dilakukan bersama pasangan. Mandilah di bawah shower dan saling menggosokkan sikat atau sabun ke tubuh pasangan. Hormon oxytocin dan prolactin yang dilepaskan saat Anda mencapai klimaks saat bercinta, juga bisa dipicu lewat sentuhan. Pijatan dan gosokan saat mandi akan memperpanjang keintiman Anda dan si dia di luar tempat tisur.

3. Bersandar di Tubuhnya
Jangan langsung membalik badan begitu sesi bercinta selesai. Lingkarkan kaki Anda di atas kaki si dia, lalu istirahatkan tangan di atas dadanya. Gerakan ini akan menjaga kedekatan setelah bercinta tanpa harus melakukan aktivitas seks untuk kedua kalinya.

4. Nyalakan Lilin
Nyalakan lilin setelah bercinta, lebih baik lagi lilin aromaterapi. Anda dan suami akan segera merasakan suasana yang lebih romantis dan tergoda untuk saling berpelukan, sebelum akhirnya tertidur pulas.

5. Mainkan Musik Romantis
Untuk membuat keintiman lebih lama setelah bercinta, nyalakan musik bertema romantis. Pilihlah lagu yang membangkitkan memori indah Anda dan pasangan, misalnya konser musik jazz yang pernah kalian datangi. Mendengarkan lagu kenangan akan membuat Anda dan pasangan merasa lebih dekat tanpa harus berkata-kata.

6. Saling Membantu Memakaikan Baju
Pakaikan kembali baju yang dia kenakan sebelum bercinta secara perlahan, dan biarkan dia melakukan hal yang sama pada Anda. Saling membantu mengenakan pakaian masing-masing adalah momen yang sangat intim dan unik. Anda dan pasangan bisa saling memerhatikan setiap bagian tubuh pasangan dengan detail atau sambil bercanda mesra saat memakaikan.

SUMBER: wolipop (Hestianingsih) 

Melihat Kepribadian Seseorang dari Pilihan Makanan Emperannya


Cara baru buat menilai kepribadian orang lewat cara yang absurd namun (mungkin) akurat. Kalo kemaren-kemaren kita udah belajar cara menebak kepribadian orang lewat apa yang dibersihin pertama kali pas mandi, jenis mie instan yang disukai, dan keadaan kamar mandinya, sekarang kita bakal ngajarin kamu cara menebak kepribadian orang dari pilihan makanan yang dibelinya waktu kamu makan di pinggir jalan alias ngemper! Langsung aja ya kita mulai!

Mie Ayam


Orang yang doyan makan mie ayam itu gak sabaran. Dibandingin makanan-makanan lain, mie ayam disajikannya lebih cepet dan makannya pun cepet, tinggal disruput sampe abis. Makan mie ayam juga kenyangnya gak lama. Sungguh cocok buat orang yang gak sabaran untuk makan lagi.

Nasi Warteg

Orang yang memilih buat makan nasi warteg, adalah orang rumahan. Makanan di warteg itu bentuk dan rasanya 11-12 sama masakan nyokap atau si bibik dirumah kan. Para penikmat nasi warteg ini bisa menemukan kenyamanan rumah sendiri lewat makanan warteg. Mereka juga biasanya punya warteg langganan dimana dia udah akrab sama ibu wartegnya, suka pesen makanan yang gak ada di meja, dan bisa ngutang sesuka hati. Pokoknya udah hampir kayak di rumah sendiri deh.

Nasi Goreng


Nasi goreng dan berbagai macam variannya seperti nasi gila dan mie goreng, adalah makanan yang simpel, umum dan bisa ditemui dimana-mana. Yang suka makan nasi goreng juga sama, mereka pribadi yang simpel, gak suka ribet dan apa adanya. Orang-orang yang suka nasi goreng bisa dibilang orang-orang yang mainstream banget deh.
Kecuali, orang-orang yang suka makan nasi goreng kambing. Mereka berbeda. Para pemakan nasi goreng kambing adalah orang-orang paling asik dan paling keren yang pernah kamu temui. Kenapa? Soalnya MBDC suka nasi goreng kambing. Dan kamu tentu tau kalo MBDC keren banget.

Nasi Padang


Coba kamu bayangkan sepiring/sebungkus nasi padang. Isinya ada nasi yang banyak, lauk daging, sayur labu, daun singkong, sambel merah, sambel ijo dan juga kuah. Gak jarang ada acar timun, kentang goreng dan lauk daging kedua yang ikutan nyempil. Rame dan meriah banget ya. Nah para penikmat nasi padang ini adalah pribadi-pribadi yang rame, ceria, dan selalu menjadi pusat perhatian. Kamu gak bakal bosen kalo ada di deket dia, karena dia selalu punya cara buat bikin suasana jadi rame. Kalo kamu mau bikin party, jangan lupa undang orang ini.

Sate  


Orang yang seneng makan sate, biasanya jago dalam perhitungan dan mengolah angka-angka. Hal ini berhubungan erat dengan sate yang selalu disajikan dalam sebuah satuan. Misalnya satu porsi ada 5, 10 atau 12 tusuk. Dan dalam satu tusuk sate bisa ada 1 sampai 4 potong daging. Hal ini menjadi pertimbangan sendiri bagi para penggemar sate ketika memesan. Butuh berapa sate kalo mau dimakan dengan sepiring nasi? Kalo satenya 10, paling tepat lontongnya satu atau setengah? Jika kamu penggemar sate, kamu cocok berkarir di bidang keuangan, seperti jadi bankir atau jadi tukang parkir.

Soto


Para penikmat soto adalah orang-orang yang penyayang dan penuh kehangatan. Lah apa hubungannya? Soto itu kan selalu disajikan hangat-hangat. Nah yang makan juga sama. Mereka suka dengan kehangatan, baik itu dalam hubungan keluarga, persahabatan atau percintaan. Kalo pacar kamu seorang penikmat soto, kamu beruntung karena pacar kamu pasti akan menjaga agar hubungan kamu selalu hangat dan mesra.

Pecel Ayam/Lele


Pecel ayam atau lele bukanlah sembarang makanan yang bisa kamu habiskan begitu saja. Banyak daging-daging yang nempel di tulang dan posisinya susah diraih dengan sendok atau garpu. Menghabiskan pecel ayam atau lele, merupakan sebuah tantangan, sesuatu yang disukai para penikmatnya. Para pelahap pecel ayam/lele ini merupakan para pemberani yang tidak takut mengotori tangannya, apalagi kalo cuma dikotori minyak ama sambel. Cih, urusan kecil. Kalo kamu termasuk tipe ini, kamu bisa berkarir jadi pendaki gunung, atau model iklan detergen.

Nah gitu. Jadi kamu sekarang lebih pintar lagi dalam mengenali kepribadian orang. Kalo menurut kamu ada tipe yang belum dibahas, silakan ditambahin di comment lho.

Sumber: http://malesbanget.com

5 Aturan Mendisiplinkan Anak


Christina Andhika Setyanti
 
KOMPAS.com - Banyak cara yang dilakukan orangtua untuk mendisplinkan anak. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal bahkan menyatakan, tak jarang orangtua memukul anak dengan dalih untuk mendisiplinkannya. Hal ini disebabkan orangtua merasa harus menunjukkan kekuasaan kepada anak, padahal sebenarnya hal ini tidak perlu.
"Bagi anak, orangtua adalah pahlawan dan contoh bagi mereka, dan jika kita memberi contoh yang negatif dan agresif maka mereka pun akan mencontohnya," ungkap Jennifer A. Powell-Lunder, psikolog anak dalam artikelnya, Kids and Discipline: What Yo do and Say Matters.

Lalu bagaimana cara mendisiplinkan anak? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa gaya pengasuhan yang paling positif untuk mendidik anak adalah dengan menetapkan batas-batas yang boleh dilakukan dan tidak, membiasakan diskusi, dan membantunya memahami setiap aturan. Kunci untuk mengasuh anak secara positif adalah dengan adanya konsistensi orangtua.

1. Lakukan pekerjaan rumah bersama anak

Melakukan pekerjaan rumah bersama anak dengan semua aturan dan konsekuensinya akan membuat anak memahami bagaimana harus melakukannya. Selain itu, Anda bisa memiliki mereka seutuhnya karena kebersamaan selama bekerja bisa menimbulkan ikatan batin yang lebih kuat.
2. Jelaskan kesalahan mereka
Tugas orangtua adalah untuk menjaga konsistensi dan berjalannya aturan dengan baik. Ketika anak melanggar aturan, ambil sikap tegas dan konsisten sesuai dengan hukuman yang sudah disepakati bersama. Jelaskan aturan yang sudah mereka langgar, mengapa hal tersebut dianggap salah, dan apa konsekuensinya. Hal ini dilakukan agar anak memahami kesalahannya, dan tak mengulanginya lagi.

3. Definisikan aturan dengan tepat
Anak memiliki definisi sendiri tentang berbagai hal, termasuk aturan. Sebaiknya samakan persepsi Anda dan anak agar Anda berdua memiliki pandangan yang sama tentang aturan tersebut. Misalnya, ketika Anda ingin si kecil membersihkan kamarnya, jelaskan definisi bersih yang Anda inginkan. "Anda pasti akan terkejut ketika tahu beragamnya penafsiran mereka dari aturan tersebut," tambahnya.

4. Orangtua yang sejalan

Anak akan lebih mudah memahami aturan dan melaksanakannya, ketika kedua orangtua memiliki aturan yang sama dan seia sekata dalam melaksanakan aturan. Samakan dulu pandangan Anda dan pasangan dalam mendisplinkan anak, agar anak tidak bingung dalam menjalankan aturan. Selain itu, anak tidak akan berpihak pada salah satu orangtua yang dianggapnya lebih baik.

5. Beri contoh
Orangtua adalah contoh terbaik bagi anak. Jangan harap anak akan menjadi baik ketika mereka selalu diberi contoh perbuatan tak baik dari orangtuanya. Setiap orang pasti berbuat kesalahan, termasuk orangtua, namun yang paling penting adalah bagaimana cara Anda mengatasi dan memperbaiki kesalahan. Anak akan belajar untuk berbesar hati dalam mengakui kesalahan, dan mampu bangkit lagi.


Teknik Dasar Berbicara dengan Anak


KOMPAS.com - Berbicara dengan anak bukan perkara mudah. Bahkan bagi orangtua anak sekalipun ada kalanya merasa kesulitan berbicara dengan anak. Bagi Anda yang sering menyaksikan serial Nanny 911 pasti pernah menyaksikan kesulitan orangtua untuk mengajak anaknya berbicara. Bagaimana cara Nanny Deb dan Nanny Stella berbicara dengan anak? Begini tips yang mereka bagi dalam buku Nanny 911:

1. Apabila Anda ingin memastikan anak mengikuti kemauan Anda (atau saat ingin mengajarkan disiplin), turunkan tubuh Anda setinggi anak. Duduk atau berlutut, pilih yang nyaman untuk Anda.

2. Tatap matanya. Ini adalah bagian penting. Jika perlu, dengan lembut palingkan wajahnya agar ia menatap langsung kepada Anda.

3. Jika si anak sangat marah, usap punggung atau perutnya. Ini adalah bentuk usapan pengakuan. Tak perlu menarik atau memeluknya dengan paksa agar berdekatan dengannya, kecuali si anak benar-benar histeris dan perlu ditenangkan. Jika anak histeris, biarkan ia tenang dulu sebelum diajak bicara. Suruh ia mengatur napasnya.

4. Ubah nada suara agar menjadi tegas tetapi lembut. Suara Anda secara alami naik turun ketika sedang bahagia atau sedang bersenang-senang.

5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirnya percakapan. Bantu anak yang masih sangat kecil dengan suruhan mengikuti kata-kata Anda dan dorong ia mencoba. Untuk anak-anak yang sudah besar, Anda bisa membuka percakapan dengan ide, seperti, "Kamu sepertinya sedang kesal."

6. Ulangi kembali apa yang dikatakan anak. Ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Ini juga memberi Anda waktu untuk mengatur ulang pikiran Anda.

7. Jangan menyela si anak saat sedang bercerita. Biarkan ia mengutarakan apa yang ada di benaknya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti. Ketika giliran Anda tiba, mereka akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda. Kalau mereka menyela Anda, katakan, "Mama mengerti, tetapi biarkan Mama selesai bicara dulu, setelah itu kami bisa bicara."

8. Biarpun hati Anda penuh gejolak, upayakan selalu tetap tenang.

Nadia Felicia

Membuat Anak Mendengar Anda Tanpa Perlu Berteriak

                                                                              Nadia Felicia 
KOMPAS.com - Tak enak rasanya melihat orangtua di tempat umum yang berusaha membuat anaknya mendengar perintahnya dengan cara berteriak. Ketika si orangtua berteriak, si anak pun ikut-ikutan berteriak saat berbicara. Apakah harus seperti itu? Sementara anak-anak lain bisa, kok, diberi tahu oleh orangtuanya tanpa harus dengan cara berteriak.

Berkomunikasi dengan anak seharusnya terjadi dua arah. Anda bicara padanya, dia mendengarkan, begitu juga sebaliknya tanpa ada salah satu yang intonasi suaranya meninggi. Ada cara-cara efektif untuk berkomunikasi dengan anak tanpa harus berteriak. Begini tipsnya:

Pesan "Saya"
Ada salah satu teknik komunikasi ekspresif untuk digunakan dengan anak, namanya "pesan saya". Terdapat 3 kata kunci dalam teknik ini, yakni; Saya merasa, ketika, dan karena.

Saat Anda berada dalam situasi ketika si anak meminta sesuatu sekarang juga, Anda bisa menggunakan teknik ini, jangan lupa gunakan ketiga kata kunci, contoh, "Mama (saya) merasa kesal ketika kamu mengganggu kerja Mama, karena Mama harus menyelesaikannya sebelum kita pergi ke taman bermain itu."

Teknik ini efektif karena ini memfokuskan kepada Anda dan perasaan Anda. Teknik ini tidak menyalahkan siapa pun, tetapi menjadi sebuah pernyataan sederhana dari cara pandang Anda terhadap situasi yang dihadapi.

Tekankan kepositivan
Salah satu cara berkomunikasi efektif dengan anak Anda adalah dengan menyusun kalimat secara positif. Hindari kata-kata "tidak" atau "jangan" saat bicara dengan anak. Ketimbang mengatakan, "Jangan buang mainan di lantai," lebih baik katakan, "Mainan itu tempatnya di keranjang mainan". Meski perubahannya sederhana, pemilihan kata-kata yang Anda gunakan berdampak besar pada reaksi anak dan caranya berinteraksi dengan orang lain.

Belanjar mendengarkan
Belajar dan mempraktikkan komunikasi yang reseptif adalah aspek penting untuk meningkatkan interaksi orangtua-anak. Amat penting mengenai apa yang Anda katakan (atau apa yang diekspresikan anak pada Anda) didengar dan dimengerti. Mendengarkan anak adalah bagian dari komunikasi yang reseptif, dan bisa digunakan sebagai cara untuk memahami anak.

Saat mendengarkan anak, hentikan segala bentuk aktivitas yang Anda lakukan dan berfokuslah pada anak Anda. Berlutut, duduk, atau angkat si kecil di atas bangku agar Anda dan dia berada dalam level yang setara. Saat si kecil berbicara, dengarkan sungguh-sungguh. Tanyakan pada diri Anda, "Apa yang dirasa oleh anak saya?" Lalu, ulangi apa yang Anda dengar atau apa yang Anda pikir sedang ia rasakan (kalau suaranya kurang jelas).

Kata kuncinya serupa poin pertama, "kamu, merasa, karena". Contoh, "Kamu merasa kesal karena kamu mau pergi ke taman bermain sekarang juga padahal Mama lagi bekerja." Menurut Terry Meredith, Patolog Bicara dan Bahasa dari TLM Consulting, penting untuk anak bisa mengekspresikan perasaannya lewat bahasa. Para orangtua juga bisa memberi tahu kepada anak bahwa adalah hal yang tak masalah untuk merasakan beberapa hal yang sama sekaligus.

Tindakan lebih jelas dari kata-kata
Ingat, bahwa pikiran Anda dikomunikasikan melalui tanda-tanda non-verbal. Cara Anda membawa diri bisa mengucapkan banyak hal ketimbang kata-kata.

Anda menghela napas sangat kencang, dahi mengerut, tangan mengepal, lalu tiba-tiba si kecil bertanya, "Mama marah?" lalu Anda menjawab sambil cemberut, "Enggak, Mama enggak marah". Bahasa tubuh Anda sudah jelas menunjukkan Anda marah dan kesal, tetapi Anda malah mengatakan sebaliknya. Saat tindakan dan kata-kata Anda tidak sinkron, Anda mengirimkan pesan ganda kepada anak. Anda membohongi perasaan, tetapi Anda menunjukkan apa yang sebenarnya Anda rasakan melalui tubuh Anda.

"Kebanyakan dari apa yang kita komunikasikan datang melalui komunikasi non-verbal. Pastikan bahasa non-verbal Anda sesuai dengan apa yang Anda katakan," anjur Meredith.

Teknik-teknik di atas bisa digunakan untuk mengkomunikasikan hal-hal positif kepada anak-anak Anda. Berikut ini satu tips yang bisa Anda lakukan untuk dipraktikkan setiap hari, angkat si kecil ke pangkuan Anda, lingkarkan lengan Anda di sisi kujurnya, lalu katakan, "Mama sangat bahagia saat kamu ada dekat Mama, karena Mama sayang sama kamu" dengan kata-kata atau bahasa yang lebih dimengerti Anda dan si kecil.



Sumber: babyzone

6 Bahasa Cinta Ayah dan Anak Perempuan



KOMPAS.com - Menjadi orang tua adalah peran yang penuh kebahagiaan, tapi penuh tanggung jawab. Peran yang tidak mudah ini juga sering kali berhadapan dengan kondisi yang dilematis. Apakah kita ingin menjadi orangtua yang otoriter atau permisif?  Karena sebenarnya untuk membentuk karakter anak diperlukan keseimbangan ketegasan, disiplin, rendah hati, dan berpikiran positif. Semua ini bisa diwujudkan dengan komunikasi yang terbuka antara anak dengan orang tua.

Kadang-kadang, komunikasi antara ayah dengan anak perempuan memiliki friksi tersendiri. Padahal ayah adalah karakter pria pertama yang dikenali anak perempuan. Bagaimana nantinya anak perempuan mendefinisikan pria, pembelajaran pertamanya didapat dari ayah. Pola interaksi yang terjadi antara ayah dengan anak perempuan ini akan membentuk anak perempuan kita menjadi perempuan yang percaya diri, berkarakter, dan berani membuat pilihan terutama ketika tiba waktunya memilih pasangan hidup.

Meski tak ada rumus baku untuk menciptakan hubungan ayah dengan anak perempuan yang harmonis, karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda,  simak bahasa cinta yang bisa membuat anak perempuan kita memiliki karakter yang lebih matang.

1. Perlakukan anak perempuan kita sesuai dengan usianya, karena tak selamanya dia menjadi putri kecil kesayangan. Jika kita terus menganggapnya seperti anak kecil atau putri kecil, maka dia tidak akan pernah benar-benar menjadi pribadi yang matang. Biarkan anak perempuan kita tumbuh sesuai umurnya dan menghadapi segala tanggung jawab yang memang sudah harus diterima. Dengan demikian dia akan merasa dihargai dan menghargai dirinya sendiri.

2. Berbicaralah dengan terbuka, jangan hanya mendengarkan tapi cobalah mengerti apa yang diinginkannya. Jangan bicara dengan nada memerintah, karena bukan itu satu-satunya cara membuat kita berwibawa. Lagipula gaya bicara yang keras atau dengan nada memerintah tidak akan membuat anak menyimpan pesan yang kita sampaikan dalam waktu lama, serta membuatnya tidak percaya diri. Sampaikan pendapat dengan tenang dan ajak mereka masuk dalam penjelasan rasional yang kita berikan. Sehingga mereka tidak merasa dihambat atau dilarang.

3. Biarkan anak perempuan kita menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang memutuskan sesuatu berdasarkan kesadaran diri bukan karena impulsivitas semata. Ayah boleh saja memberikan opini, tapi bukan berarti memaksa anak agar mengikuti keinginannya. Karena tanpa disadari, ketika anak berani memilih maka dia akan berani bertanggung jawab atas pilihannya.

4. Ayah perlu menunjukkan bahwa ia selalu menghormati perempuan. Caranya, dengan memperlakukan isteri, ibu, atau saudara perempuannya dengan hormat. Dengan begitu anak perempuan kita akan memilih pendamping yang memang menghargai perempuan, tidak sekadar cinta buta.

5. Jangan segan untuk mengekspresikan cinta pada anak perempuan. Merasakan cinta yang tulus dari ayah, akan membuat anak perempuan merasa aman dan percaya pada kita sebagai orangtua serta teman. Ini yang kemudian secara alami membentuk interaksi yang hangat antara ayah dan anak perempuan.

6. Ajari anak perempuan kita akan prinsip diri. Kita tidak akan bisa 24 jam penuh mendampingi anak perempuan kita, maka bekali mereka dengan prinsip diri yang kuat. Dengan begitu, mereka tidak akan mudah diperdaya oleh iming-iming teman-temannya. Anak perempuan kita pun semakin menjadi perempuan yang matang dengan prinsip hidup yang kuat.

Di saat anak kita memiliki konsep dan interaksi hubungan yang baik dengan ayahnya, ini akan ditularkan pada anak-anaknya kelak. Inilah warisan yang akan selalu berharga sepanjang generasi.
(Prevention Indonesia Online/Siagian Priska)


Mendidik Anak agar Serba Bisa


Christina Andhika Setyanti

KOMPAS.com - Salah satu tujuan yang ingin dicapai orangtua pastilah memiliki anak dengan kemampuan yang serba bisa dan mandiri. Namun, salah satu syarat untuk memiliki anak yang percaya diri dan bisa melakukan berbagai hal positif adalah adanya keyakinan dan kemauan si anak untuk mampu melakukan apa pun. Lalu bagaimana cara mendidik anak agar memiliki kepercayaan diri dan "always can do"?

1. Temukan kemampuan unik anak
Ada banyak kesempatan untuk membantu anak-anak menemukan bakat dan kemampuannya. Dukung sepenuhnya kemampuan dan bakat yang mereka miliki. Mungkin hal ini terlihat sederhana, namun terbukti kuat mampu membantu anak-anak lebih percaya diri dan mampu mengembangkan bakat mereka. Semakin anak-anak mampu mengenali kemampuan unik mereka, akan semakin tinggi kepercayaan diri yang mereka miliki. Bantu anak menyadari kemampuannya sendiri tanpa memaksanya melakukan hal yang tidak diinginkan, dan hentikan membandingkan kemampuan mereka dengan saudara lainnya.

2. Apresiasi prestasi dan hasil kerja keras mereka
Tidak ada yang dapat membangkitkan kepercayaan diri dibanding dengan sebuah penghargaan atau perayaan atas prestasi anak. Hargai setiap usaha dan prestasi yang dicapai anak, sekecil apapun itu. Buat catatan kecil atau jurnal yang mencatat keberhasilan anak-anak mencapai sesuatu, misalnya belajar naik sepeda, belajar matematika, atau berani tidur sendiri, dan pastikan Anda juga memberikan tanggalnya. Buku ini bisa menjadi kenangan tak ternilai tentang prestasi anak, bahwa ia ternyata sanggup melakukan berbagai hal dengan baik. Jika anak belum bisa membaca, gunakan foto dan tempel pada buku jurnal Anda. Kegiatan ini akan membantu anak untuk melacak keberhasilannya, dan mengembangkan keinginannya untuk tetap maju dan berhasil.

3. Fokus pada tindakan, bukan penampilan
Penelitian terbaru menunjukkan, terlalu banyak anak-anak -terutama anak perempuan- yang lebih berfokus pada penampilan dan bukan pada apa yang mampu mereka lakukan. Bantu anak-anak untuk lebih berfokus pada tindakan dan kegiatan positif lain yang bisa dilakukan ketimbang sekadar menonjolkan penampilan. Jadilah role model dengan mendiskusikan tujuan dan keinginan Anda terhadapnya, dan berbagi kebanggaan Anda atas setiap prestasi mereka. Dengan membicarakan tentang prestasi dan bukan berfokus pada penampilan, Anda membantu anak untuk mengembangkan keyakinan pribadi atas prestasi dan kemampuannya.

4. Puji anak dengan spesifik
Semua orang menyukai pujian, tak terkecuali anak-anak. Namun perlu diingat bahwa tidak setiap pujian kecil bisa meningkatkan harga diri sang anak. Anda tentu juga tak ingin anak menjadi seseorang yang haus pujian. Ungkapkan pujian yang membangun kepercayaan diri anak. Puji anak saat ia benar-benar menunjukkan bakatnya dengan baik, dan juga gunakan kata "karena" dalam pujian Anda sehingga menjadi lebih spesifik. Puji keahlian anak yang sama selama beberapa minggu ketika mereka benar-benar melakukan hal yang baik. Hal ini menyebabkan anak akan percaya pada "pesan" dan mengadopsinya untuk membentuk keyakinan baru tentang kemampuan dirinya.

5. Tonjolkan sisi positif mereka
Cara yang ampuh untuk membantu anak mengembangkan keyakinan diri yang lebih kuat adalah dengan mengajarkan self-talk positive. Tidak ada salahnya untuk sedikit menonjolkan diri Anda tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri. Beri contoh kepada anak beberapa tindakan positif yang Anda banggakan dan kemudian akui perbuatan tersebut di depan anak. Misalnya, "Ibu pikir, Ibu tidak bisa memasak sup ini, tapi ternyata bisa dan rasanya enak." Awalnya mungkin sedikit aneh, namun hal ini bisa membantu anak untuk mengembangkan pikiran bahwa mereka pun mampu melakukan hal-hal yang awalnya mereka pikir tidak mampu mereka lakukan.

6. Tempel slogan motivasi
Pikiran negatif dapat dengan mudah mematikan kepercayaan diri dan kemampuan anak. Tak ada salahnya untuk menanamkan pikiran dan slogan positif dalam hidup keseharian. Misalkan tempel slogan motivasi dan niat positif untuk anak di kamarnya, atau di tempat yang mudah terlihat olehnya. Ini cara yang sederhana namun efektif untuk mendorong anak berpikir lebih postif tentang diri mereka.

7. Hindari selalu membantu mereka memecahkan masalahnya

Tidak ada orangtua yang ingin anak-anaknya kecewa, dan hal ini seringkali membuat orangtua mencoba untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan anak. Namun, berhati-hatilah karena hal ini ternyata bisa membuat anak menjadi tidak mandiri dan selalu tergantung pada Anda. Sebaiknya, ambil langkah untuk membantu mereka hanya ketika benar-benar diperlukan saja.

Masalah Seks yang Ingin Diketahui Anak Baru Gede


img 



Jakarta - Rasa ingin tahu Anak Baru Gede (ABG) atau remaja terhadap seks cukup tinggi. Umumnya informasi yang didapat dari teman karena malu bertanya pada orangtua. Ini dia pertanyaan seputar seks yang ada dibenak kaum remaja.

Seperti dikutip dari buku Questions Kids Ask About Sex, karangan J. Thomas Fitch dan Melissa R. Cox, yang diterbitkan ANDI, Kamis (9/2/2012) ada beberapa pertanyaan seks yang membuat remaja penasaran, yaitu:

1. Apa sebenarnya cinta itu? Apakah seks bukan cinta?
Kebanyakan film menggambarkan hubungan seks sama dengan cinta. Namun dalam kehidupan nyata, seks dan cinta adalah dua hal yang sangat berbeda. Cinta sejati lebih dari sekedar jatuh cinta, melainkan perasaan yang membuat seseorang peduli dan memberi dengan pengorbanan. Sedangkan seks adalah alat komunikasi yang penting bagi orang yang saling mencintai, sedangkan seks di luar pernikahan hanya digunakan sebagai hiburan atau ekspresi emosi sesaat.

2. Apa yang harus saya lakukan jika mengalami ereksi di sekolah?
Ereksi bisa terjadi kapan saja, meskipun laki-laki tersebut hanya memikirkan tentang seorang perempuan atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Mungkin ini memalukan, tapi ada kemungkinan orang tidak akan memperhatikannya. Untuk itu tetaplah tenang dan penis akan melunak dengan sendirinya, sehingga tidak perlu dicemaskan.

3. Apa yang dimaksud dengan sanggama?
Sanggama biasanya dijelaskan sebagai peristiwa dimasukkannya penis pria ke dalam vagina wanita. Sanggama secara anal terjadi ketika penis dimasukkan ke dalam dubur. Sedangkan sanggama oral terjadi ketika penis dimasukkan ke dalam mulut, atau mulut menyelubungi vagina dengan tujuan untuk merangsang.

4. Bagaimana penis bisa masuk ke dalam vagina?
Ketika perempuan sedang terangsang, vaginanya akan menjadi lembab dan basah sehingga memungkinkan penis untuk masuk ke dalam lubang vagina meski berapapun ukurannya. Sama seperti penis yang secara alami mengalami ereksi, maka tubuh perempuan juga memiliki kemampuan untuk memasukkan penis ke dalam tubuhnya. Namun hubungan seks yang pertama kali bisa menimbulkan rasa sakit.

5. Apa yang dimaksud dengan seks oral?
Seks oral adalah merangsang organ seks dengan mulut dan lidah, kegiatan ini dikenal sebagai 'going down' pada anak perempuan dan 'blow job' atau 'head' pada anak laki-laki. Namun seks oral bukanlah seks yang aman karena masih ada kemungkinan terjangkit IMS. Meskipun tidak bisa menyebabkan kehamilan, tapi kebanyakan orang melanjutkannya dengan sanggama, sehingga ada kemungkinan kehamilan terjadi.

6. Apa yang dimaksud dengan seks anal?
Seks anal adalah penetrasi penis ke dalam anus atau dubur. Karena dubur tidak dirancang untuk sanggama, sehingga masalah kesehatan bisa saja timbul dan tidak pernah dianggap sebagai perilaku seks yang aman. Jika sperma berada di dekat dubur, maka bisa jadi sperma masuk ke dalam liang sanggama meskipun peluangnya kecil.

7. Apa salahnya menonton video berkategori X?
Video ini adalah salah satu bentuk pornografi, sehingga bisa menghancurkan kemampuan seseorang untuk mengalami kepuasan seks bersama dengan pasangan nyatanya kelak. Karena orang yang suka melihat pornografi akan membutuhkan tingkatan yang lebih tinggi lagi agar bisa terangsang.


8. Apakah seseorang bisa hamil jika berhubungan seks saat sedang menstruasi?
Seseorang tidak bisa hamil selama ia menstruasi, karena saat menstruasi tubuh mengeluarkan sel telur yang tidak dibuahi. Meski demikian beberapa perempuan mengalami pendarahan atau bercak darah pada saat ovulasi, sehingga ada kemungkinan untuk hamil pada masa pendarahan menstruasi yang ini.

 9. Apakah seseorang bisa hamil meskipun belum mengalami menstruasi?
Hal tersebut bisa saja terjadi, karena ada kemungkinan seorang gadis mengalami ovulasi sebelum pendarahan menstruasi terjadi untuk pertama kalinya.

10. Seperti apa rasanya orgasme?
Beberapa orang menggambarkan orgasme sebagai pelepasan yang meledak sesudah membangun kenikmatan yang tinggi. Meskipun sukar didefinisikan, orgasme sangat menyenangkan bagi kedua belah pihak.







6 Penyebab Anak Susah Tidur


img



Jakarta - Tidur merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi anak. Kebanyakan anak menghabiskan berjam-jam waktu untuk tidur agar kembali segar dan aktif saat bangun. Jika anak Anda memiliki kesulitan untuk tidur, lebih baik cari tahu penyebabnya terlebih dahulu dan coba mengatasinya. Berikut 6 penyebab anak susah tidur seperti dilansir The Cradle :

1. Penyebab pertama adalah anak tidak memiliki jam tidur yang konsisten. Meskipun kebanyakan orang tua tahu seberapa pentingnya menerapkan jam tidur yang konsisten bagi anak, tetapi tidak semua orang tua benar-benar menerapkan hal tersebut. Penyebabnya antara lain si anak yang masih harus melakukan suatu kegiatan, atau bahkan si anak masih memiliki banyak energi untuk bermain sehingga sulit untuk menyuruhnya tidur.

Beberapa cara untuk mengatasinya adalah menghentikan aktivitas fisik anak dengan waktu yang konsisten setiap harinya. Sebaiknya, aktivitas fisik benar-benar dihentikan sekitar 10 hingga 15 menit sebelum waktu tidur si anak. Selain itu, biasakan untuk melakukan rutinitas secara teratur dan berurutan, misalnya kapan harus gosok gigi sebelum tidur, sehingga si anak tahu kapan ia harus benar-benar tidur.

2. Merupakan hal yang lumrah jika Anda membuat anak tidur dengan cara membacakannya cerita, menyanyikannya lagu nina bobo, atau ikut tidur di sebelah si anak. Akan tetapi, ternyata dengan kebiasaan Anda tersebut, anak mulai mengasosiakan tingkah laku Anda yang dapat membuatnya tidur sehingga si anak tersebut dapat terlelap. Sayangnya, ketika si anak terbangun dan mendapati kondisi yang ada tidak sama seperti sebelumnya, kemungkinan ia akan panik dan merengek kepada Anda untuk memberikan kondisi yang sama agar ia dapat tidur kembali.

3. Penyebab ketiga adalah lingkungan kamar tidur yang buruk. Sebaiknya, hal-hal yang dapat membuat anak tidak dapat tidur, seperti mainan atau televisi, disingkirkan dari kamar si anak. Selain itu, pastikan lampu kamar dimatikan sehingga anak dapat tidur dengan nyenyak. Jangan lupa untuk menjauhkan anak dari suara dan bunyi-bunyian yang dapat mengganggu tidurnya dan anak sebaiknya menggunakan baju tidur yang hangat dan nyaman.

4. Penggunaan alat bantu tidur yang tidak sesuai juga merupakan penyebab sulitnya si anak untuk tidur. Salah satu alat bantu tidur yang paling umum digunakan adalah dot. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua alat bantu tidur dapat merugikan anak. Sebagai orangtua, sebaiknya Anda perlu mengetahui alat bantu tidur apa yang sesuai untuk anak dan kapan sebaiknya alat bantu tersebut digunakan.

5. Penyebab kelima adalah penerapan waktu tidur yang salah. Kebanyakan anak membutuhkan waktu tidur kurang lebih 11 jam per hari. Pada usia 10, misalnya, anak lebih baik tidur pada pukul 19.00 atau paling telat pukul 20.30. Dengan menerapkan waktu tidur yang konsisten, tepat, dan sesuai kebutuhan anak pada usianya, maka si kecil dapat dengan terbiasa untuk tidur pada waktu yang ditentukan.

6. Memberikan respon yang tidak konsisten ketika anak terbangun juga merupakan penyebab si anak susah tidur. Misalnya, di satu waktu, ketika anak terbangun, Anda menyanyikannya lagu agar ia bisa tidur kembali. Namun, di waktu yang lain, Anda mendiamkannya menangis begitu saja. Hal tersebut justru akan menyulitkan anak untuk tidur kembali. Agar si anak dapat kembali tidur dengan nyenyak di malam hari, Anda sebaiknya memiliki satu respon yang jelas dan konsisten ketika ia terbangun.

9 Hal Ini Sebaiknya Jangan Anda Ucapkan Pada Anak

img
Jakarta - Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Terkadang, permasalahan di kantor, konflik dengan suami, atau permasalahan keluarga malah membuat Anda kesal ketika berhadapan dengan sikap anak yang kurang menyenangkan.

Apalagi jika si kecil meminta macam-macam kepada Anda, sehingga tidak menutup kemungkinan Anda mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh diucapkan ke buah hati tercinta. Tentu saja, hal tersebut akan meninggalkan luka tersendiri bagi anak Anda.

Berikut bagian pertama dari sembilan hal yang sebaiknya jangan diucapkan orangtua kepada buah hatinya seperti dilansir Parenting :

1. "Pergi! Mama ingin sendiri dulu"
Ketika Anda mengatakan kalimat ini kepada si kecil, Suzette Haden Elgin, Ph.D., pendiri Ozark Center for Language Studies mengatakan bahwa anak akan menginternalisasi kalimat tersebut dan berpikir tidak ada gunanya untuk berusaha berbicara kepada Anda karena mereka selalu diusir. Selain itu, jika Anda terbiasa mengatakan hal ini kepada anak, ketika dewasa ia akan terbiasa pula mengatakan hal yang sama kepada orang lain.

Ketimbang mengucapkan kalimat di atas, ketika Anda memang sibuk coba katakan pada anak, "ada yang ibu harus kerjakan dan selesaikan, jadi ibu ingin kamu menggambar dulu sendiri ya beberapa menit. Kalau ibu sudah selesai, ibu akan menyusul". Anda juga harus realistis, anak-anak yang berusia balita dan pre school tidak bisa membuat diri mereka sendiri tenang selama beberapa jam.

2. "Kamu itu..."
Memberikan label adalah jalan pintas untuk mengubah anak-anak. Jika Anda mengatakan "kamu itu memang pemalas," maka ia akan ikut melabeli dirinya secara tidak langsung dan menganggap dirinya memang pemalas dan tidak ada yang dapat diubah. Jika kita memberikan label yang buruk kepada anak seperti bodoh, nakal, dan sebagainya, maka hal tersebut akan terus melekat dan bisa saja menjadi identitas dirinya yang ia internalisasi hingga dewasa.

Sebaliknya, jika Anda mengatakan "kamu anak yang pintar," ia akan mengira Anda memiliki ekspektasi yang besar untuknya dan hal tersebut tentu saja dapat menjadi suatu beban tersendiri baginya. Jika Anda ingin untuk mengubah tingkah laku si kecil, lebih baik katakan secara jelas dan spesifik apa yang sebaiknya ia lakukan dan apa yang sebaiknya tidak ia lakukan tanpa memberi label untuknya.

3. "Jangan menangis"
"Jangan sedih!," atau "jangan seperti anak kecil" merupakan variasi lain dari kalimat di atas. Jika Anda perhatikan, anak-anak belum bisa menyalurkan emosinya melalui kata-kata. Mereka tertawa ketika mereka senang, dan sudah pasti mereka menangis jika mereka sedih. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah.

"Sebenarnya, wajar bila orang tua tidak ingin anaknya merasa sedih atau menangis. Tetapi, dengan mengatakan "jangan" dan "tidak" kepada anak tidak akan membuat anak tersebut merasa lebih baik. Bahkan, hal tersebut akan menimbulkan kesan bahwa emosi mereka tidak benar dan tidak baik untuk merasa sedih atau takut," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur dari Family Support Services di Nova Southeastern University, Florida, Amerika Serikat.

Daripada Anda memintanya jangan menangis, cobalah pahami emosi atau kesedihannya. "Ibu tahu kamu takut sekolah tidak ditemani ibu. Tapi di sana ada ibu guru yang bisa jadi pengganti ibu sebentar dan ada teman-teman kamu. Kalau kamu masih takut, ibu selalu ada di luar dan kamu bisa bertemu aku kapanpun kamu mau. Ibu janji nggak akan ninggalin kamu sendirian".

Dengan memahami kesedihannya, Anda bisa memberinya contoh bagaimana mengekspreksikan perasaannya. Anda juga menunjukkan padanya bagaimana bersikap empati. Di kemudian hari, anak pun jadi tidak lagi terlalu sering menangis dan bisa mengekspreksikan kesedihannya.

4. "Kenapa kamu tidak seperti dia?"
Wajar bagi orang tua untuk membanding-bandingkan si kakak dengan si adik, atau membandingkan anak dengan temannya yang lain. Tapi, membanding-bandingkan anak Anda bukanlah cara yang efektif untuk mengubah perilakunya. Anak memiliki fase tersendiri untuk belajar, memiliki temperamennya masing-masing, juga kepribadiannya yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Membandingkan anak Anda akan menyiratkan bahwa Anda ingin ia tidak menjadi dirinya sendiri dan hal tersebut justru malah akan menyakiti hatinya. Selain itu, membanding-bandingkan anak juga dapat merusak kepercayaan dirinya. Lebih baik, berikan apresiasi dan pujian atas tingkah lakunya yang Anda sukai agar dapat mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kembali.

5. "Lho, hanya begini hasilnya?"

Sama seperti membanding-bandingkan, anak Anda juga pasti akan tersakiti hatinya jika Anda mengatakan kalimat tersebut kepadanya. Belajar adalah suatu proses untuk mencoba dan melakukan kesalahan hingga anak Anda akhirnya berhasil untuk menguasai suatu hal. Kalimat ini tidak akan menyemangatinya untuk terus menguasai hal tersebut, malah hanya akan menyakitinya dan membuatnya malas untuk kembali belajar.

Jika anak Anda terus melakukan kesalahan, memberikan semangat dengan berkata "sepertinya akan lebih baik jika kamu menyelesaikannya dengan cara seperti ini," akan lebih memotivasinya dibandingkan dengan terus mengejeknya.

6. "Berhenti, atau..."

Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk ancaman. Jika Anda sering mengatakan ini kepada anak, cepat atau lambat ancaman ini tidak akan berpengaruh lagi terhadap anak dan bahkan anak akan menganggap ancaman sebagai suatu hal yang biasa. "Hasil riset menunjukkan bahwa, 80% anak dua tahun akan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukannya hari ini, keesokan harinya, tak peduli disiplin seperti apa yang Anda terapkan," kata Murray Straus, Ph.D., seorang sosiolog di University of New Hampshire.

Jadi sebaiknya Anda tidak lagi memberinya ancaman. Akan lebih efektif untuk menerapkan taktik misalnya memberikan anak arahan yang sama, menjauhkan anak dari situasi serupa atau memberinya time-out.

7. "Tunggu sampai Mama pulang ke rumah!"

Ini adalah salah satu bentuk lain dari ancaman. Akan tetapi, ancaman seperti ini akan lebih tidak efektif karena jika anak melakukan suatu kesalahan, sebaiknya Anda menanganinya secara langsung dan secepat mungkin sehingga tidak ada penundaan. Selain itu, bisa jadi setelah Anda pulang, anak Anda telah melupakan kesalahannya. Hal lain yang membuat ancaman tersebut kurang efektif adalah anak Anda yang akan lebih berfokus kepada cara untuk mencegah hukuman daripada fokus terhadap tingkah lakunya yang salah apabila Anda melakukan penundaan dalam menangani tingkah lakunya.

8. "Ayo, cepat!"

Anda pasti akan merasa stres saat terlambat bangun pagi, jalanan macet, kurang tidur, atau memiliki banyak pekerjaan di kantor yang harus Anda selesaikan segera. Anda pun kemudian meminta si kecil untuk buru-buru agar Anda tidak terlambat. Jika Anda kerapkali mengeluh, mendesah, atau bahkan merengek agar anak buru-buru sebaiknya Anda perlu berhati-hati. Hal tersebut cenderung menimbulkan perasaan bersalah pada anak, akan tetapi tidak membuat mereka termotivasi untuk bergerak lebih cepat.

9. "Hebat! atau "anak baik!"

Memang, tidak ada salahnya untuk memuji anak Anda. Tapi kesalahan dari suatu pujian adalah ketika pujian berlebihan diberikan untuk tingkah laku anak yang biasa saja. Misalnya, kalimat seperti "wah, kamu sangat hebat!," dilontarkan kepada anak yang telah terbiasa menghabiskan susunya setiap hari, akan menjadi kurang berarti.

Anak-anak dapat membedakan mana pujian yang dilontarkan untuk sesuatu yang sederhana, dan pujian untuk suatu tingkah lakunya yang memerlukan usaha lebih. Lebih baik, berikan pujian untuk usaha keras yang telah anak Anda lakukan seperti menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit, atau pada hal yang jarang anak Anda lakukan tetapi sekarang ia berhasil melakukannya. Pujian yang spesifik membuat anak lebih termotivasi untuk melakukan tingkah laku tersebut.

5 Cara Agar Si Kecil Tak Terlalu Sering Nonton TV


img 


Jakarta - Menonton televisi kini memang sudah jadi aktivitas yang sulit dilepaskan dalam kesehariaan. Tapi terlalu banyak televisi, terutama pada anak, juga tidak baik.

Menurut psikolog anak Vera Itabiliana, terlalu banyak menonton televisi bisa mempengaruhi daya konsentrasi anak. Menonton televisi lebih dari empat jam sehari juga cenderung membuat anak mengalami obesitas. Gara-gara televisi, anak juga bisa menjadi konsumtif.

Oleh karena itu, sebelum menjadi kebiasaan, sebaiknya sejak masih balita, anak jangan terlalu sering menonton televisi. Berikut lima cara membatasi balita Anda dari menonton televisi, seperti dikutip dari WebMD:

1. Libatkan Anak Saat Anda Beraktifitas
Memang cara ini akan sedikit merepotkan Anda. Tapi tidak ada salahnya diterapkan ketimbang menjadikan televisi sebagai babysitter anak. Ketika Anda membersihkan rumah, minta saja si kecil ikut membantu. Misalnya dia menyapu, sementara Anda membersihkan debu. Kalau Anda memasak, ajak juga dia. Anak bisa ikut menyiangi sayuran yang akan Anda masak, seperti bayam dan kacang panjang.

2. Hindari Iklan
Menurut American Academy of Pediatrics, setiap tahunnya anak-anak melihat 40 ribu iklan di televisi. Anak-anak yang berusia di bawah enam tahun masih belum paham perbedaan iklan dengan acara sesungguhnya. Sehingga sebaiknya anak tidak terlalu sering terpapar iklan. Sebaiknya pilih acara televisi yang iklannya sedikit. Kalau memang anak akan menonton televisi, putar saja film favoritnya di pemutar DVD.

3. Dampingi Anak
Sebaiknya jangan jadikan TV sebagai babysitter anak Anda. Usahakan selalu duduk bareng bersamanya ketika si kecil menonton televisi. Kalau memang acara televisi yang ditontonnya sudah habis, jangan biarkan anak mengganti channel dan mencari acara lainnya. Tapi katakan pada anak kalau sebaiknya Anda menyudahi menonton TV dan melakukan aktivitas lain.

4. Jelaskan Alasan Kenapa TV Dimatikan
Ketika Anda akan mematikan televisi, jelaskan padanya kenapa hal tersebut dilakukan. Jangan langsung matikan televisi tanpa terlebih dulu, anak tahu penyebabnya. "Katakan padanya, kalau hari ini sudah cukup banyak menonton acara televisi," jelas Donald Shifrin, ahli masalah kesehatan dan perkembangan anak dari University of Washington Schoolf of Medicine, di Seattle. Dia juga anggota dari American Academy of Pediatrics.

Donald pun menyarankan, sebaiknya sebelum mulai menonton televisi, Anda sudah menjelaskan berapa banyak acara yang boleh ditontonnya. Anda bisa membuat perjanjian dengannya sehingga anak tidak akan marah saat Anda mengatakan akan mematikan televisi.

5. Beri Contoh
Kalau Anda ingin anak tidak terlalu banyak menonton televisi, Anda pun harus memberikan contoh serupa. Sebaiknya Anda pun tidak menaruh televisi di kamar. Hindari menyalakan televisi begitu Anda memasuki rumah atau membiarkan benda tersebut tetap menyala ketika anak tidak menontonnya. Saat makan, sebaiknya televisi juga tidak dinyalakan.

4 Cara Bantu Anak Atasi Rasa Takutnya


img
Jakarta - Anak yang berusia balita, sudah bisa mengungkapkan rasa takutnya pada suatu hal bisa benda atau makhluk hidup. Sebaiknya sebagai orangtua, Anda membantu anak mengatasi ketakutannya tersebut.




Menurut Psikolog Anak D'Arcy Lyness, perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang dirasakan anak adalah hal normal dan perlu untuk mereka. Dengan menghadapi ketakutan atau kekhawatiran tersebut, anak bisa menyiapkan diri menghadapi pengalaman tidak menyenangkan di masa mendatang.

Dengan memiliki rasa takut, itu juga bisa membantu agar anak tetap aman. Misalnya saja, anak yang takut pada api akan membuatnya tidak tertarik untuk bermain korek api.

Berikut ini tips dari Lyness untuk membantu anak menghadapi ketakutan dan kekhawatirannya, seperti dilansir Kids Health:

1. Cari tahu apakah ketakutan tersebut nyata atau tidak. Meskipun kesannya sepele, baginya hal tersebut sangat nyata dan membuatnya merasa sangat takut. Cobalah bicara dengannya. Obrolan dengan anak itu bisa jadi salah satu kekuatan untuk anak mengatasi perasaan negatifnya.

2. Jangan pernah menganggap sepele ketakutan anak, sebagai cara Anda untuk memaksa anak mengatasi ketakutannya. Dengan bilang padanya, "Ketakutan kamu mengada-ada. Tidak ada monster di dalam lemari", memang bisa membuat anak mau tidur di kamarnya. Tapi perkataan tersebut belum tentu membuat anak kehilangan rasa takutnya.

3. Jangan dukung ketakutan anak tersebut. Misalnya saja, jika anak Anda takut anjing, Anda dan dia saat jalan bersama jadi menghindari jalan yang ada anjingnya. Jika hal itu dilakukan malah akan membuat anak semakin percaya kalau anjing memang menakutkan dan harus dihindari. Cobalah mendukungnya dan memberinya kasih sayang saat anak mengatasi ketakutannya.

4. Ajari anak beberapa strategi untuk mengatasi ketakutannya. Beberapa cara yang mudah, pertama, gunakan Anda sebagai 'tempatnya berlindung'. Dengan memakai Anda sebagai tempat berlindung, anak akan berusaha menghadapi ketakutannya dan kemudian kembali lagi pada Anda, lalu mencoba lagi menghadapinya. Kedua, Anda bisa juga mengajarkan anak untuk mengucapkan pernyataan positif ke dirinya sendiri.

Misalnya saja dengan mengucapkan "Aku bisa" dan "Aku akan baik-baik saja" saat ia mulai merasa takut. Ketiga, teknik relaksasi seperti menarik napas dalam-dalam juga bisa membantu. Minta anak untuk membayangkan kalau paru-parunya adalah balon dan biarkan balon tersebut mengempis perlahan-lahan.

Edukasi Seks Sebaiknya sejak Anak Dalam Kandungan


KUDUS, KOMPAS.com — Psikolog dari Unika Soegijapranata Semarang Dwi Yanny Lukitaningsih menyatakan, pendidikan seks dapat dimulai sejak anak dalam kandungan melalui pola hidup dan perilaku seks yang tidak berlebihan dari kedua orangtuanya.
"Aktivitas seksual ketika istri sedang hamil muda harus dikontrol, jangan terlalu berlebihan ataupun ditekan, mengingat gairah seks ibu hamil muda cukup besar," ujarnya ketika memberikan pendidikan seksual di hadapan siswa SMP Keluarga, Kudus.
Menurut dia, aktivitas seksual kedua orangtuanya sangat berpengaruh terhadap psikologis anak ketika nanti lahir. "Jika selama dalam kandungan pola hidup kedua orangtuanya teratur dan tidak berlebihan, anaknya tentu memiliki kepribadian yang lebih baik dibandingkan perilaku orangtua yang pola hidupnya tidak teratur dan cenderung berlebihan," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, pola hidup kedua orangtua harus dijaga dan dibiasakan sejak anak masih dalam kandungan. Ini perlu dilakukan karena sebagian besar psikologis anak saat dewasa dipengaruhi oleh sikap kedua orangtuanya.
Selain itu, lanjut dia, selama kehamilan, jangan pernah menggunjingkan orang lain atau mengumpat. Saat anak mengalami pertumbuhan, kata dia, orangtua harus tetap memerhatikan perkembangan kejiwaan anaknya dan jangan dibiarkan berperilaku sesukanya agar tumbuh sebagai pribadi yang berkualitas dan tidak berperilaku menyimpang.
Menurut dia, pendidikan seksual bagi pelajar harus diutamakan pada dampak negatif dari pasangan yang melakukan seks di luar nikah, seperti penyakit kelamin hingga kehamilan di luar nikah.
"Untuk menjaga anak agar tidak berperilaku seks menyimpang, tentu dibutuhkan peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam memberikan pembelajaran yang positif," ujarnya.
Sementara itu, Presiden Rotary Club Kudus Stefanus JJ Batihalim mengungkapkan, pendidikan seks bagi pelajar tidak hanya dilakukan di SMP Keluarga. Sekolah lain juga akan diajak kerja sama melakukan kegiatan serupa.
"Setiap anak muda tentunya memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan seks secara akurat dan seimbang," ujarnya.
Dengan adanya pendidikan seks tersebut, para pelajar diharapkan memahami dan mengerti peran jenis kelaminnya. "Paling tidak, perilaku seks menyimpang hingga menimbulkan kehamilan di luar nikah juga bisa dicegah karena mengetahui dampak buruknya," ujarnya.



PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA DINI

Suatu hari seorang teman pernah bercerita pada saya tentang anaknya. Seperti yang kita tahu, anak-anak terkenal dengan kepolosan, kelucuan dan keterkejutan. Untuk yang satu ini para pembaca sekalian pasti bertanya-tanya, mengapa bisa dikatakan keterkejutan. Kata-kata anak-anak memang selalu tidak terduga. Daripada terus dihinggapi rasa penasaran, saya mulai ceritanya.

Teman saya: “Kamu tadi lagi ngapain sama ayahmu, Teo?” (bertanya pada anaknya yang bernama Teo)
Teo: “Nonton film?”.
Teman saya: “Film apa to dik?”.
Teo: “Nggak tau buk, nggak sampai selesai, kayak film orang kerokan?”(dengan wajah dan nada suara polosnya).

Sontak saja teman saya langsung tertawa ngakak dengan jawaban anaknya yang masih duduk di bangku TK tersebut. Mungkin dari teman-teman ada yang tahu isi cerita ini. Ya cerita ini tak lain adalah mengisahkan tentang kegiatan anak yang sempat menonton sekilas adegan film porno, tapi tidak sampai akhir, mungkin hanya adegan pembuka.

Berikut ini akan saya ceritakan kisah yang lain.

Ada sebuah keluarga kecil (pasangan muda) dengan satu anak laki-laki berusia 5 tahun, mengontrak kamar atau kos kamar. Suatu siang yang amat terik si anak tadi keluar dari kamar kos.

“Lho siang-siang begini kok keluar to dik, nggak tidur siang?” tanya teman saya yang juga kos disitu. “Aku disuruh keluar sama papa,” jawabnya dengan wajah dan nada suara datar. “Kenapa disuruh keluar?” teman saya penasaran. “Soalnya papa bilang, papa sama mama mau push up,” jawab anak itu, lagi-lagi dengan kepolosannya. Akhirnya teman saya tahu, apa yang sedang terjadi di dalam. Sambil menahan tawa dia langsung kembali ke kamarnya.

Ada banyak cerita seputar si kecil, yang lucu dan menggemaskan untuk disimak. Satu cerita lagi yang akan saya hadirkan disini. Inilah kisahnya.

Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dan masih duduk di bangku TK terkejut ketika memasuki kamar yang tidak terkunci dan mendapati ayah ibunya sedang berhubungan badan. “Lho…ibuku diapain…,”teriak si anak. Sejak saat itu si anak menjadi benci dan menunjukkan sikap permusuhan terhadap ayahnya, karena dia merasa ayahnya telah menyakiti ibunya.

Selama ini, pendidikan seks untuk anak usia dini dianggap tabu di kalangan masyarakat. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal dengan pendidikan seks yang diberikan sejak dini sangat berpengaruh dalam kehidupan anak ketika dia memasuki masa remaja. Apalagi anak-anak sekarang kritis, dari segi pertanyaan dan tingkah laku. Itu semua karena pada masa ini anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang besar. Pernahkah para pembaca mendengar tentang seorang anak yang bertanya “Adik bayi itu keluar dari mana?” atau “Adik bayi asalnya dari mana?”. Untuk itu perlu kiat-kiat khusus dalam memberikan pemahaman tentang seks kepada mereka. Biasanya tak jarang orangtua mengalihkan pembicaraan, kadang mereka membentak dan melarang anak untuk tak menanyakan hal tersebut. Selain itu jawaban yang diberikan malah terkesan ngawur. Padahal jawaban yang demikian bisa memicu anak untuk mengeksplor sendiri, karena mereka merasa penasaran dan berusaha mencari jawaban sendiri, apabila tidak mendapatkannya dari orangtuanya.

Melalui cerita ini, saya bermaksud berbagi cerita dan berbagi tips tentang cara memberikan pendidikan seks untuk anak usia dini. Ada beberapa tips dalam memberikan pemahaman anak tentang seks antara lain: Menanamkan rasa malu, misalnya dengan membiasakan anak untuk ganti baju di tempat tertutup; Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan, misalnya dengan berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya; Memisahkan tempat tidur mereka, terutama dengan saudara yang berjenis kelamin berbeda; Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu), untuk menanamkan dan menghormati privasi masing-masing saat berada di dalam kamar; Mendidik anak untuk menjaga pandangan matanya dari hal-hal yang mengandung unsur pornografi; Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin sekaligus juga mengajari anak tentang najis, membiasakan anak buang air kecil pada tempatnya (toilet), dengan begitu anak akan terbiasa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Selain itu, secara tidak langsung mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya.

Pendidikan seks untuk anak-anak walaupun diberikan sejak dini juga harus memperhatikan faktor usia dan tingkat pemahaman anak. Beri penjelasan dengan bahasa yang dimengerti oleh anak. Pendidikan dapat diawali dengan mengenalkan identitas anak, mengenalkan perbedaan ciri-ciri tubuh anak perempuan dan laki-laki. Selanjutnya jelaskan pada anak tentang bagian tubuh yang tersembunyi, yang dianggap tabu untuk disebutkan namanya. Menjelaskan pada anak apa adanya bukan berarti jorok. Memang tidak gampang memberikan penjelasan tersebut. Yang penting sesuai. Yang tidak kalah penting adalah menciptakan hubungan yang baik dengan anak, dengan begitu anak akan mudah menerima masukan dari orangtua, dan yang tidak ketinggalan adalah membina hubungan kerjasama dengan pihak sekolah, dengan tujuan pergaulan anak di sekolah dapat terpantau, dan tidak ada salahnya pendidikan seks untuk anak juga diadakan di sekolah.

Dengan demikian anak sudah mempunyai bekal untuk kehidupannya kelak ketika menginjak masa remaja dengan menjaga dirinya sebaik mungkin. Selain itu anak menjadi tahu batasan dan sebab akibat dari bahaya pergaulan bebas.

pendidikan-seks-untuk-anak-usia-dini

Tips Membangun Harga Diri Anak



KOMPAS.com - Harga diri atau self esteem adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Membangun citra diri biasanya diawali pada masa kanak-kanak dan sangat tergantung dari apa yang dia dengar tentang dirinya dari orang lain.

Jadi, jika seorang anak selama masa hidupnya mendengar pujian, motivasi, dan kritikan yang membangun, maka kemungkinan besar anak itu akan berkembang menjadi pribadi yang baik dan memiliki rasa harga diri yang tinggi.
Di sisi lain, jika anak selalu dikritik, diperlakukan kasar dan tidak pernah diberikan penghargaan atas prestasi kecil yang dia dapat, maka anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri.

Membangun kepribadian seorang anak normalnya dimulai dari lingkungan rumah. Kepribadian individu mulai terbentuk pada masa kanak-kanak, sehingga orang tua mempunyai tanggung jawab besar dalam pembentukan self esteem sang anak.
Berikut adalah beberapa tips untuk membangun rasa harga diri yang tinggi pada anak, seperti dikutip Lifemojo :

* Jadilah pendengar yang baik: Di tengah kehidupan modern saat ini, seringkali orang tua sulit meluangkan waktu untuk anak-anak mereka. Sesibuk apa pun, wajib bagi Anda untuk membagi waktu bersama anak-anak setiap hari. Tinggalkan semua pekerjaan Anda, duduk dan bicaralah dengan anak Anda seperti halnya Anda berbicara dengan orang dewasa..

* Pujilah Anak Anda: Anak Anda mungkin datang kepada Anda untuk menunjukkan suatu keahlian atau hasil ujian yang diperolehnya di sekolah. Berikan pujian kepada anak Anda untuk karyanya, namun jangan berlebihan.
* Jangan bandingkan: Orang tua sering membandingkan satu anak dengan anak lain atau tetangga dengan maksud bahwa anak Anda dapat berubah dan menjadi seperti yang Anda harapkan. Namun, ini bukanlah cara yang benar karena dapat mengarah ke pembentukan perasaan rendah diri pada anak yang bersangkutan.

* Jangan mengkritik terlalu keras: Kritik yang keras selalu membawa hasil yang merugikan. Jika Anda ingin mengkritik, lakukan dengan kata-kata yang halus dan jangan sampai menyinggung perasaannya.
* Jadilah contoh: Anak-anak umumnya tidak terlalu bisa banyak mengingat nasihat dari orang tua mereka. Akan tetapi mereka cenderung mengamati perilaku dan sikap Anda. Jadi, berikanlah panutan yang baik pada anak-anak Anda.

Pikiran Mengembara Bikin Tak Bahagia



Kompas.com - Sebuah studi teranyar menunjukkan, ketika pikiran seseorang mengembara atau tidak fokus pada aktivitas yang sedang dikerjakan, mereka menjadi tidak bahagia dibandingkan jika mereka menaruh perhatian penuh.

Pikiran manusia secara unik mampu mengembara ke banyak hal. Sebenarnya kemampuan ini memiliki manfaat positif, seperti membantu kita merenungkan apa yang sudah terjadi atau mengantisipasi apa yang akan terjadi dan membuat rencana. Menurut Matthew Killingstowrth, kandidat doktoral psikologi dari Harvard University, kemampuan tersebut memberi ciri pada manusia sebagai makhluk hidup.

Akan tetapi pikiran yang bercabang itu bisa menjadi bumerang, terutama ketika kita memikirkan sesuatu lebih daripada yang sedang dikerjakan. Akibatnya adalah muncul perasaan tidak bahagia.

Dalam sebuah studi terhadap 2.250 partisipan, terungkap ketika diminta mengerjakan 22 aktivitas, seperti berjalan, makan, belanja, bekerja, atau menonton televisi, 47 persen partisipan mengatakan pikiran mereka sering mengembara ke banyak hal.

Namun ada satu kegiatan yang bisa dilakukan secara fokus, yakni saat bercinta. Hanya 10 persen responden yang manjawab mereka juga memikirkan hal lain sambil bercinta.

Secara umum, mayoritas juga menjawab paling merasa bahagia ketika berhubungan seksual, diikuti dengan berolahraga. Sementara itu aktivitas yang sering membuat tidak bahagia adalah bekerja, beristirahat, serta menggunakan komputer.

Ketika ditanya hal yang sering dipikirkan, 42 persen mengatakan mereka memikirkan hal-hal yang menyenangkan dan 26 persen menjawab memikirkan hal-hal tidak menyenangkan.

Killingsworth mengatakan, secara tidak langsung hasil penelitian ini membuktikan bahwa berada "di sini" dan "saat ini" sangat penting agar kita merasa bahagia.
Sumber :

8 Cara Menghargai Diri Sendiri




JAKARTA, KOMPAS.com - Seberapa besar Anda menghargai diri sendiri? Jika belum, ambillah waktu sebentar dan lakukan sesuatu yang baik untuk diri sendiri.
1.    Sediakan waktu. Menyediakan waktu untuk diri sendiri akan membuat pikiran segar kembali. Bahkan, menyediakan lima menit hanya untuk menutup mata dan memfokuskan pikiran dapat membantu Anda merasa lebih baik. Namun, akan lebih baik bila Anda bisa menyediakan waktu yang lebih banyak untuk memfokuskan pikiran pada diri sendiri dan apa yang perlu dilakukan.
2.    Lakukan sesuatu yang baik untuk tubuh. Memang mudah mengabaikan kesakitan yang dirasakan tubuh dan lupa untuk mengurus diri sendiri. Cobalah berendam di air panas yang dicampur garam atau mintalah seseorang untuk memeluk. Bisa juga cobalah berdiri dan lakukan peregangan.
3.    Buat diri sendiri merasa nyaman. Misalnya dengan menelepon teman atau minum teh hangat, tidur dengan bantal dan selimut yang nyaman, menulis buku harian, makan sesuatu yang disukai, mencium bau minyak aromaterapi seperti vanila, lavender, dan lain-lain.

4.    Pergi ke dunia lain.
Caranya adalah dengan membaca buku, menonton film, atau biarkan pikiran mengalir ke mana pun ia pergi.

5.    Melakukan sesuatu yang konyol.
Ini akan membawa keluar jiwa kanak-kanak yang ada dalam kepribadian kita dan memberi perasaan bahagia. Misalnya bermain busa sabun, membuat kue, mengamati awan dan mereka-reka bentuknya, serta bermain dengan hewan peliharaan atau otopet.
6.    Cuti sehari. Apalagi bila Anda sudah merasa jenuh dengan pekerjaan sehari-hari. Ambil cuti sehari dan lakukan apa pun yang ingin dilakukan seharian penuh. Ini lebih baik daripada sehari di akhir pekan.
7.    Jalan-jalan di tengah alam terbuka. Kadang kita lupa memperhatikan dunia yang terbentang di sekitar. Mengamati alam akan membuat kita merasa lebih enak dan kalem. Berjalanlah di taman. Amati dan pandanglah pohon, rumput, langit, kemudian bernapaslah.
8.    Melakukan sesuatu yang sudah lama ingin Anda kerjakan. Mengapa menundanya lagi? Lekas kerjakan dan Anda akan merasa lebih baik.

Belajar Memaafkan!



KOMPAS.COM Pernahkah Anda merasa begitu marah dengan orang lain hingga rasanya tak ingin berbicara lagi dengannya, apalagi melihat mukanya lewat di depan kita? Bahkan, ketika kemarahan telah sampai di ubun-ubun kepala, ruang hati kita akan tertutup untuk dirinya. Sebenarnya, apakah kita boleh melakukan hal tersebut?

Sebagai manusia, apalagi perempuan (yang katanya makhluk emosional), merasakan dan mengekspresikan perasaan marah sebenarnya merupakan hal yang wajar. Tetapi yang bahaya adalah ketika perasaan marah dan kesal tersebut terus dipelihara di dalam hati. Memelihara perasaan negatif di dalam hati bisa berakibat negatif juga untuk tubuh. Perasaan negatif tersebut akan menjadi life-toxins yang menggerogoti hidup Anda. Enggak percaya? Coba bayangkan. Ketika Anda teringat kembali oleh kemarahan yang Anda simpan dalam hati tadi, maka mendadak wajah Anda menjadi berkerut sehingga membuatnya terlihat lebih tua, jantung jadi berdebar kencang menahan amarah, dan yang paling tidak nyaman adalah pikiran jadi terjebak dengan ‘kemarahan’ hingga langkah ke depan terasa berat. Benar kan?

Nah, agar tak menjadi life-toxins, ada baiknya Anda mulai belajar untuk berlapang dada dan berbesar hati untuk memaafkan kesalahan orang lain. Banyak manfaat yang bisa dipetik dari hal itu lho. Salah satunya adalah peace of mind alias pikiran yang tenang. Tidak ada lagi beban berat yang menghimpit pikiran dan perasaan Anda. Tidak ada lagi hal yang bisa membuat darah Anda ‘mendidih’ seketika. Semua akan Anda jalani dengan lebih ikhlas dan sabar sehingga ‘langkah’ terasa lebih ringan.

Dalam suasana hati yang tidak enak, tentu kita mengharapkan adanya teman yang dapat mengurangi perasaan tidak enak tersebut. Dengan kesibukan sehari–hari, langkah pertama yang paling mudah adalah dengan mencari Balancea sebagai teman untuk menenangkan diri. Terbuat dari Rosella Ungu yang kaya akan perpaduan Antioksidan, Pomegranate, dan Barbados Cherry selain memberikan kesegaran dalam suasana hati yang tidak tenang juga sangat bermanfaat untuk menjaga keseimbangan kesehatan tubuhmu.

Mari kita bersama-sama belajar untuk memaafkan kesalahan orang lain. Semoga hidup kita menjadi lebih cerah :)
Sumber :
Balancea